Tentang Passion

Sejak kecil gue doyan curhat. Mungkin lebih tepatnya, gue doyan cerita. Soalnya zaman kecil gue nggak punya teman di rumah. Nyokap merantau, dan pas kecil, gue nggak punya saudara. Jadi, bercerita adalah cara gue menumbangkan rasa sepi. Bahkan, kadang-kadang gue tergiur untuk menelpon premium call (0809-CLUB-JANDA) cuma biar ada teman ngobrol aja. Setiap gue nyeritain kepada teman-teman tentang cerita lucu kodian yang gue dapet dari majalah atau koran, dan mereka ketawa, gue ngerasa ada orang peduli sama gue. Ada kebahagiaan sederhana di sana. Tapi cuma cerita-cerita lucu yang berani gue ceritain kepada teman-teman. Untuk isi hati dan masalah hidup, gue ceritain kepada buku diary. Iya, zaman SD, gue punya diary yang ada gemboknya gitu. Cuman, anehnya meski itu diary ada gemboknya, gue dulu suka tukeran diary sama teman-teman sekolah gue. Lebih tepatnya gue tukeran diary sama teman-teman sekolah yang cewek. Soalnya teman-teman sekolah gue yang cowok, nggak ada yang main diary. Mereka mainin mainan cowok yang nggak wajar kayak yoyo, layangan, atau perasaan. Gue adalah cowok yang paling normal di antara teman-teman gue, karena gue main diary, miara Barbie, dan nangis kalo nonton kartun Honey Bee Hutch.

Hal yang ngangenin dari main diary adalah, tukeran diary sama teman-teman. Terus di sana, kita ngisi biodata kita. Mulai dari nama, tempat tanggal lahir, makanan favorit, minuman favorit, sampai kesan-kesan kita kepada teman yang punya diary ini. Agak aneh memang, kita disuruh untuk nulisin perasaan kita kepada orang, di buku orang itu sendiri. Mungkin aktivitas itu bisa disebut sebagai main social media secara offline.
Dan kebiasaan curhat kepada diary itu masih gue lanjutin sampe gue dewasa. Gue suka curhat dengan cara menulis, karena itu salah satu cara gue untuk mensyukuri hidup. Setiap detail kejadian dalam hidup, gue ceritain ke dalam tulisan dengan sudut pandang yang unik. Biar kelak, bisa gue baca lagi cerita-cerita itu di saat hidup gue terasa membosankan. Sehingga gue bakal kembali bersyukur dan mengerti bahwa hidup itu akan selalu menarik, tergantung dari sudut mana gue melihatnya. Lagian, kalo gue rajin nulisin kisah hidup gue sejak kecil, kelak kalo gue punya anak atau cucu, gue nggak perlu nyeritain kisah masa muda gue kepada mereka secara lisan. Jadi, kalo anak gue kelak nanya, 
“Pa.. Papa dulu gimana bisa jatuh cinta sama mama?”
Gue bakal jawab dengan bangga, “Baca aja buku papa.”
Nah, karena pas gue udah mulai remaja teknologi kian maju pesat, gue pun nggak make diary lagi buat curhat. Gue makenya blog, alias diary online. Soalnya gue pernah trauma make diary konvensional karena dulu diary gue pernah hilang. Gue nggak takut ceritanya diketawain sama yang nemu diary-nya sih. Tapi gue sedih karena cerita yang pernah gue tumpahin di sana itu nggak ternilai harganya. Setelah gue punya blog, hampir setiap hari kerjaan gue ke warnet buat numpahin isi hati dan cerita hidup gue sehari-hari. Dan setiap akhir bulan, gue baca ulang cerita-cerita yang gue tulis sepanjang bulan itu, sebagai bahan introspeksi sudah setangguh apa gue untuk bertahan hidup.
Kira-kira 6 tahun yang lalu, gue masih bertahan untuk terus ngeblog meski sudah 2 tahun gue rutin ngeblog seminggu sekali dan nggak pernah ada yang ngasih komentar di blog gue. Sekalinya ada yang komen, paling tukang bakso di kantin kampus. Itu juga gara-gara dia gue ancem, kalo nggak ngasih komen di blog, gue nggak mau bayar utang jajan bakso gue. Di titik itu gue hampir males ngelanjutin blog gue lagi. Sebagai manusia, tentunya gue butuh yang namanya apresiasi dari sesuatu yang gue lakuin. Setidaknya pertanyaan semacam, “Kapan blognya update lagi?” bisa jadi cambuk kreativitas gue di masa gersangnya motivasi itu.
Akhirnya gue emang sempat berhenti ngeblog selama kurang lebih sebulan. Gue nyoba menjalani hidup tanpa pernah curhat lagi di blog. Gue milih buat curhat kepada pohon mangga. Karena hobby ini, gue sempat dibawa ke paranormal, karena gue dikira kesurupan kuntilanak penunggu pohon mangga. Tapi selama sebulan itu, gue ngerasa kosong. Karena gue nggak punya tulisan untuk bahan introspeksi diri lagi. Gue ngerasa hidup gue sebulan terakhir udah sia-sia. Karena perasaan hambar itu, akhirnya gue nyoba nulis lagi di blog, nggak peduli tuh tulisan nggak ada yang baca. Setidaknya gue punya cerita yang nggak bakal terlupakan gitu aja. Saat itu gue nggak pernah kepikiran kalo gue bakal jadi penulis buku. Apalagi mikirin kalo menulis itu bisa ngasilin duit.
Sampai akhirnya di tahun 2009, ada penerbit khilaf yang mau nerbitin blog gue jadi sebuah buku. Untuk cerita lengkap gue mengejar karier sebagai penulis buku, bisa cek di SINI  Ya, di tahun itu, gue resmi menyandang gelar penulis buku. Tapi apakah gue bisa dianggap sukses secara finansial setelah buku pertama gue rilis? Jawabannya, enggak. Kalo misal niat gue nulis buku waktu itu adalah demi jadi jutawan, pasti gue nggak bakal ngelanjutin profesi gue sebagai penulis buku. Gue inget banget royalti pertama yang gue terima setelah 6 bulan buku gue terbit itu adalah, Rp.1.500,000an. Bukan jumlah yang sepadan untuk penantian selama 6 bulan dan kerja keras menembus penerbit beberapa taun sebelumnya. Tapi gue saat itu benar-benar tidak kecewa dengan penghasilan segitu. Malah gue sempet mikir, “Wah.. Ternyata ada yang mau beli tulisan gue ya?”
Tentang Passion
Gue pun terus mencoba berkarya dalam bidang tulisan. Bahkan di saat banyak orang sekitar yang nggak begitu peduli dengan usaha gue ini. Saat buku kedua gue rilis, ada perubahan besar terjadi. SKRIPSHIT merupakan karya “balas dendam” gue kepada mereka yang dulu mengatakan buku pertama gue alay, buku pertama gue sampah, atau, buku pertama gue cuma cocok buat dijadiin ganjel meja. Tapi kritik mereka nggak membuat gue untuk berhenti berkarya. Masukan dari pembaca yang berbentuk saran demi kemajuan skill gue, gue terima dengan lapang dada. Kritikan pedas yang cuma bertujuan menghina, gue cuekin aja. Gimana caranya gue bisa cuek sama omongan pedas orang? Caranya simpel, gue kasih tau kepada diri gue sendiri, “Jangan down sama kata-kata mereka, setidaknya lo selalu berusaha dan punya karya. Ngapain ngedengerin omongan mereka yang tiap hari ongkang-ongkang sambil megangin hape aja?”
Iya, berkat kritikan pembaca, gue jadi belajar lebih tekun buat mengaktualisasikan diri dan menciptakan gaya tulisan yang unik. Gue baca banyak buku dari berbagai genre untuk gue jadiin referensi. Gue juga nggak malu buat bertanya kepada penulis-penulis yang lebih senior bila ada hal yang belum gue pahami. Dan semua usaha gue terbayar, buku gue SKRIPSHIT cukup meledak di pasar. Alhamdulillah saat ini SKRIPSHIT sudah memasuki cetakan ke delapan. Kembali lagi, ini bukan tentang uang, ini adalah tentang passion. Tentang melakukan apa yang membuat gue bahagia. Buat yang belum paham, gue kasih sedikit pengertian, ya.. Passion adalah sesuatu yang terus dilakukan, tapi tak pernah terasa membosankan. Justru kalo nggak dilakukan, hidup malah terasa membosankan. Nah, bukankah indah kalo kita bisa melanjutkan hidup sambil melakukan hal yang kita suka? Dan hal tersebut dapat menghidupi, pula. :p 
Dari dulu gue nggak pernah bercita-cita untuk jadi karyawan di kantor-kantor besar, dengan pakaian rapi, sepatu mengkilap, dan dasi. Gue udah sempat mikir, sejak SD, SMP, SMA, Kuliah, hidup gue udah dijadwal. Hampir setiap hari gue kudu ngelakuin hal yang sama, bangun jam 6 pagi, terus kudu pulang di sore hari. Mau liburan, kudu nunggu tanggal merah, mau di rumah aja seharian, ntar boss marah. Gue nggak mau gaya hidup yang kayak gitu. Makanya gue milih untuk jadi penulis, yang bisa kerja di mana aja, kapan aja. Kerja sambil molor, atau cuma pake kolor. Ini hidup gue, yang boleh ngatur ya gue. Kalo saat muda gue lebih suka ngikutin jadwal daripada kemauan keluarga, apa kelak gue nggak bakal ditinggalin sama mereka juga di hari tua?
Setelah sekarang gue udah punya beberapa karya baru, dengan gaya hidup sesuai yang gue mau, pelan-pelan teman-teman yang dulu menyepelekan apa yang gue lakukan, mendadak berusaha untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang udah pernah gue lakukan. Mereka mulai ngeblog, mulai nulis, mulai minta buat diajarin soal nulis. Gue, sebagai orang yang pernah merasakan susahnya berjuang untuk jadi penulis, tentunya merasa antusias untuk membantu mereka. Berdasarkan pengalaman yang pernah gue punya, gue kasih tip dan materi soal nulis yang gue punya.
Tapi sayang, rata-rata setelah kurang lebih sebulan sampai tiga bulan mereka ngeblog, mereka akhirnya menyerah dengan alasan tidak ada respon dari siapapun. Tidak ada yang membaca tulisan mereka, apalagi berkomentar. Hal-hal semacam itu bisa membuat mereka berhenti nulis begitu aja dan nggak mau lagi untuk melanjutkannya. Saat gue tanya kenapa nggak dilanjut, mereka biasanya jawab,
“Udah lah.. Lo mah emang beruntung bisa jadi penulis. Dan mungkin gue nggak bisa seberuntung elo.”
Mendengar jawaban semacam itu, gue sebenarnya lumayan kesal. Mereka menyimpulkan kesuksesan yang mereka tidak ketahui prosesnya itu sebagai keberuntungan. Padahal tidak.. Kalo mereka mau membuka mata, apa yang mereka perjuangin itu belum ada apa-apanya dibandingin apa yang udah gue perjuangin beberapa tahun sebelumnya. Jadi, gue nggak setuju kalo yang gue dapetin itu adalah semata-mata hasil keberuntungan. Apa yang gue dapetin itu adalah buah dari ketekunan dan kesabaran dalam menjalani passion. Sejak dulu, gue selalu yakin bahwa Tuhan nggak bakal nyuekin orang yang bener-bener tekun.
Nah, untuk problema teman-teman gue yang menyerah untuk jadi penulis tadi, gue jadi bisa mempelajari bahwa menulis bukanlah passion mereka. Mereka ikut-ikutan nulis, karena mereka menganggap gue sukses karena nulis, dan mereka berharap untuk bisa mendapatkan jalan yang sama dengan cara mengikuti jejak langkah yang pernah gue buat sebelumnya. Padahal, kalo passion mereka bukan menulis, dengan mengikuti jejak langkah yang ada pun mereka bakal cepat merasa jenuh dan lelah untuk memperjuangkannya. Kenapa? Karena mereka tidak pernah merasa bahagia saat melakukannya. Jadi, sebenarnya yang sebaiknya mereka lakukan bukanlah ikut-ikutan jadi penulis kalo memang mereka tidak suka menulis. Harusnya mereka mengejar passion mereka sendiri. Lakukan apa yang mereka sukai. Sehingga mereka tidak akan merasa letih untuk menjalani. Tekuni, tekuni dan yakini, niscaya Tuhan bakal ngasih hasil di luar ekspektasi.
Yap, sekian curhatan gue hari ini. Semoga post ini bisa memberi manfaat untuk kalian semua yang pengin menjalani hidup dengan bahagia. Kalo ada yang mau ditanyain mengenai passion, silakan share di comment box ya! Thank you!
Ketekunan itu pasti ada hasilnya. Kalo lo udah berjuang tapi ngerasa belum ada hasilnya, artinya lo masih kurang tekun. 😉