Kisah Saudagar dan Anak Kembar

Malem ini gue mau berbagi sebuah cerita yang pernah didongengin almarhum eyang gue zaman kami masih sama-sama kelas 1 SD dulu. Menurut gue ceritanya itu seru. Sangking serunya, gue masih inget detail ceritanya ampe sekarang. Penasaran? Oke.. Silakan naik ke kasur, masuk ke dalam selimut, dan puter lagu-lagu damai kayak punyanya Hadad Alwi.

Kisah Saudagar Dan Anak Kembar

Zaman dahulu kala, tepatnya pada tahun 2060, ada seorang saudagar yang sangat kaya raya. Nama saudagar itu adalah Harno. Harno punya bisnis ojek antar provinsi dan karyawannya sudah ada lebih dari 1000 orang. Harno punya rumah sebesar pulau Jawa. Sangking besarnya, setiap dia mau pipis, dari kamar tidur dia harus naik pesawat Cesna dulu agar bisa sampai ke toilet. Hidup Harno terasa sangat sempurna, dengan uangnya yang tak terhingga, dia bisa membeli segalanya. Banyak orang yang dengki pada kehidupan mewahnya. Tapi, di sudut hatinya, Harno merasakan keresahan yang menyiksa.

Di usianya yang hampir 50 tahun, Harno belum memiliki pacar, apalagi istri. Sejak dulu dia selalu sibuk bekerja dan mengumpulkan harta, hingga dia lupa mencari wanita. Harno resah dengan kehidupannya yang tanpa istri, namun dia lebih resah di saat dia menyadari dia juga tak punya anak. Dengan keadaan itu, Harno kepikiran tentang siapa yang nantinya akan melanjutkan bisnis ojek antar provinsinya itu.

Suatu hari, saat Harno sedang kebelet boker, dia berhenti di pom bensin dan boker di toilet umumnya. Di kloset, Harno menemukan dua anak bayi yang lupa belum disiram oleh orang tuanya. Iya, di tahun 2060 dulu, manusia masih belum banyak yang sadar tentang cinta dan susila. Akhirnya Harno bawa dua anak yang ternyata kembar itu pulang. Anak-anak itu sangat lucu, dua-duanya laki-laki, dan mereka kembar identik. Perbedaannya cuma sedikit. Yang satu punya rambut hitam, kulit gelap, dan mata cokelat. Yang satunya berambut pirang, kulitnya terang, dan mata berwarna biru. Harno menamai mereka Supri dan Irpus.

Harno merawat Supri dan Irpus dengan penuh cinta. Untuk pertama kalinya, Harno bisa merasakan rindu kepada orang lain saat dia harus pergi cukup lama ke luar kota. Untuk pertama kalinya, ada yang menanti Harno di rumah dengan penuh antusias setiap waktunya pulang kerja. Ya, Harno mulai berbahagia dengan hidupnya. Di titik itu, Harno menyadari bahwa indahnya hidup bisa dirasakan saat punya apa-apa, tapi hal itu juga bisa menyiksa saat tidak punya siapa-siapa.

Tanpa terasa, seminggu kemudian Supri dan Irpus sudah tumbuh dewasa layaknya anak-anak remaja biasanya. Mereka sudah punya kumis, jenggot dan mulai suka belanja online. Di saat yang sama, Harno mulai merasa tua. Dia merasa raganya sudah tak mampu lagi untuk menjalani pekerjaannya. Mulai terpikirkan oleh Harno untuk meminta anak-anak menggantikan dirinya. Harno juga merasa waktunya sudah tepat untuk membagikan warisan kepada anak-anaknya. Namun Harno bimbang, kursi kepemimpinan perusahaan tidak bisa diduduki oleh dua orang sekaligus. Harno harus memilih salah satu dari anak kembarnya.

Setelah rutin berdoa dan menyembah biji salak selama beberapa minggu, akhirnya Harno mendapatkan petunjuk cara untuk memilih siapa yang layak mendapatkan kursi kekuasaan di perusahaannya. Hari itu juga Harno memanggil kedua anaknya.

“Supri.. Irpus..” Harno duduk di kursi goyang favoritnya di rumah. Kursi goyang Harno ini beda. Kalo di zaman kita kursi goyang itu geraknya maju mundur, kursi goyang Harno ini geraknya ke kanan dan kiri. Biasanya kalo duduk di kursi itu selama satu jam, Harno harus diinfus make Antimo biar nggak muntah-muntah.

“Iya, papa.” Jawab si kembar serempak.

“Hari ini, papa ingin mengatakan pada kalian, bahwa kalian sudah dewasa.” Harno menghisap pipa rokok yang terhubung dengan knalpot jet pribadi di belakang rumahnya.

“Betul, papa.” si kembar kembali menjawab dengan kompak.

“Nah.. Papa ingin salah satu di antara kalian mewarisi tahta papa. Papa ingin salah satu dari kalian jadi boss di perusahaan ojek antar provinsi papa. Yang mengurusi kesejahteraan karyawan, dan mengurus biaya rumah sakit setiap kali mereka pulang kerja dan terserang paru-paru basah.”

“Lalu, bagaimana keputusan papa? Saya kah yang akan papa pilih?” Irpus yang tadinya sibuk main catur dengan diri sendiri, mendadak terlihat antusias dan bergelantungan di plafon rumah.

“Tidak.. Tidak sesederhana itu, anakku.” Harno menepuk pundak Irpus agar Irpus kembali duduk.

“Apapun keputusan papa, saya siap menerimanya.” Supri menjawab pernyataan Harno dengan tenang dan santun.

“Jadi begini.. Papa akan meminta kalian untuk berlomba. Jadi, papa baru saja memesan Tongsis di pulau seberang, tapi karena pemilik toko minta ongkos kirim, papa tidak setuju. Papa memutuskan untuk meminta kalian mengambil Tongsis pesanan papa itu. Nah, siapapun yang bisa lebih dulu membawakan Tongsis itu sampai di rumah, dia berhak untuk menjadi bos baru di perusahaan papa.” Asap tebal berbau Avtur mengepul dari mulut Harno.

“Semudah itu, Papa?” Irpus terlihat sangat bersemangat.

“Iya, tapi ada peraturannya.”

“Apapun peraturan yang papa buat, kami pasti bersedia untuk mengikutinya.” Supri duduk bersujud di depan Harno.

“Peraturannya adalah, kalian tidak akan papa beri uang sepeserpun selama perjalanan. Yang kedua, kalian cuma akan papa bekali makanan yang bisa kalian pilih sendiri untuk dikonsumsi selama perjalanan.”

“Baiklah pa! Kami siap!” Supri dan Irpus mengucapkan kalimat itu secara kompak dengan nada mayor dan minor.

Si kembar segera bergegas untuk mengambil bekal mereka masing-masing. Irpus mengambil roti, selai dan meses cukup banyak dan memasukannya ke dalam tas punggung. Sedangkan Supri mengambil ikan asin, beras dan alat masak. Setelah mereka bersiap-siap, mereka pun memulai perjalanan ke barat untuk mengambil Tongsis.

Di minggu pertama perjalanan mereka, Irpus memimpin jauh. Soalnya, setiap waktunya makan, Irpus tinggal mengambil roti tawarnya, lalu mengoleskan selai dan langsung memakannya. Sedangkan Supri harus mencuci beras, menanaknya, dan menunjukkan foto mantan si ikan asin dengan tujuan untuk manasin ikan asinnya tanpa perlu make api.

Namun di minggu kedua, Supri bisa menyusul Irpus dan bahkan bisa membalapnya. Kenapa? Karena Irpus mulai kelaparan. Rotinya habis? Tidak. Roti Irpus mulai jamuran semua. Sedangkan ikan asin dan beras Supri, tidak bisa basi. Namun, Supri tak tega meninggalkan saudaranya kelaparan di jalan. Di saat Supri beristirahat untuk memasak, Supri memanggil Irpus untuk makan bareng. Irpus memakan nasi dengan lauk ikan asin itu dengan lahap. Setelah makan, mereka pun mencoba tidur karena hari sudah menjelang siang. Di saat Supri tidur nyenyak, Irpus diam-diam mengambil tas berisi bekal Supri dan segera kabur melanjutkan perjalanannya. Iya, Supri ditinggalkan di sana tanpa apa-apa.

Singkat cerita, Irpus sudah kembali ke rumah sambil membawakan Tongsis yang diinginkan papanya.

“Bagus, anakku. Kamu datang jauh lebih cepat dibanding yang aku bayangkan. Pasti kelak saat kamu memimpin perusahaan, kamu juga akan cekatan.” Saudagar memeluk anaknya dengan penuh rasa bangga.

“Jadi, kapan saya boleh mulai bekerja, papa?” Irpus terlihat sudah tidak sabar untuk menjadi boss di perusahaan ayahnya.

“Mulai besok kamu sudah boleh bekerja, Nak. Papa mau istirahat di rumah saja.”

Irpus mengepalkan tangannya ke udara, menandakan bahwa dia merasa menang. Namun seminggu kemudian, Harno bertanya, “Oiyah.. Supri di mana, Pus?”

“Err.. Anu.. Saya tidak tahu, Papa. Saya tidak bertemu dengannya. Saya sudah memimpin jauh di perjalanan itu sejak hari pertama.” Irpus terlihat sedikit panik.

“Hmm.. Aneh.. Harusnya dia sudah pulang. Tapi sudahlah, dia kan sudah dewasa.” Harno kembali menghisap pipa rokok kesayangannya.

Irpus menikmati pekerjaan barunya sebagai boss perusahaan. Setiap hari pekerjaannya hanya menandatangani slip gaji dan slip pembayaran pajak. Malamnya, dia pergi ke konser-konser dangdut di kampung-kampung sebelah untuk berfoya-foya. Sebulan kemudian, Irpus dikagetkan dengan kedatangan Supri di rumah.

“Anakku! Kenapa kamu baru nyampe, nak?” Harno memeluk Supri erat-erat.

“Maaf papa, kemarin bekalku dicuri orang saat dalam perjalanan. Sehingga aku terlunta-lunta dan kelaparan di kota orang.” Supri menjawab pertanyaan papanya sambil melirik tajam ke arah Irpus. Irpus salah tingkah, Irpus pura-pura main futsal untuk mengalihkan perhatian.

“Wah.. Malang sekali nasibmu, Nak..” Harno kembali memeluk Supri.

“Maaf papa, saya gagal untuk meneruskan tanggung jawab papa kepada perusahaan. Tapi saya pikir, Irpus cocok untuk menjalani profesi itu.” Supri mengatakan kalimat itu tanpa ekspresi kecewa sama sekali.

Irpus segera menyambar kalimat Supri, “Kamu sih, teledor banget! Perusahaan ini bisa bangkrut kalo dipegang orang teledor kayak kamu!”

“Kamu tidak kecewa, Nak?” Harno memastikan bahwa salah Supri tidak menyimpan kekecewaan keputusannya.

“Ayahanda, saya hendak bercerita tentang apa yang saya alami dalam perjalanan saya.” Supri kembali membuka mulutnya, Irpus kembali terlihat panik dan segera main Karapan Sapi.

“Apa anakku? Ceritakanlah.. Papa mau mendengarkanmu.”

Supri menghela nafas, lalu berbicara, “Jadi begini.. Saya mengaku saya teledor sehingga saya kalah dalam perlombaan antara saya dan Irpus. Tapi saya tidak kecewa sedikitpun, karena saya sudah merasa menang dengan cara yang lain.”

“Apa maksud dari perkataanmu, Supri?” Harno mengernyitkan dahi sambil menatap mata Supri dalam-dalam.

“Di perjalanan kemarin, setelah saya kehilangan bekal saya, saya kelaparan di kampung orang. Di sana, saya bertemu seorang wanita yang sangat cantik. Wajahnya ada di bagian depan kepalanya.”

“Lalu?” Harno jalan mondar-mandir di depan Supri sambil memegangi dagunya sendiri.

Supri menolehkan wajahnya ke arah pintu rumahnya, “Ningsih, kemarilah..”

Muncul seorang wanita dari balik pintu. Wajahnya sungguh menawan, giginya rapi bak paving block taman, rambutnya hitam panjang berkilauan. Supri menggandeng tangan Ningsih, “Di saat saya kritis dan hampir memakan paha saya sendiri, saya bertemu Ningsih. Dia menolong saya, memberikan makanan kepada saya, dan merawat saya, papa.”

“Hmm..” Harno menunjukkan ekspresi penasaran.

“Selama saya bersama Ningsih, saya mengalami indahnya waktu bersama. Saya jadi sadar, ternyata ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain harta. Yaitu cinta, Papa.” Supri menyatakan isi hatinya dengan penuh keyakinan. Supri melanjutkan, “Sejak bertemu dia, saya sengaja mengulur perjalanan saya untuk menikmati waktu yang selalu terasa cepat saat bersamanya. Ntah kenapa, setiap detik bersamanya, saya merasa lebih bahagia daripada menghabiskan waktu untuk belanja hal-hal yang saya suka.”

Supri kemudian berlutut di depan papanya, Ningsih juga ikut berlutut. “Begitulah papa.. Maaf saya tidak memilih untuk menjadi pemimpin di perusahaan papa. Saya lebih memilih untuk menjadi pemimpin di hidup Ningsih.”

Harno memegang lengan Supri dan Ningsih, lalu menyuruh mereka untuk berdiri. Harno segera memeluk Supri dan Ningsih dengan perasaan haru. Irpus merasa lega karena kelicikannya tidak terbongkar, dia segera bersyukur dengan cara menyembah tower selular.

“Nak.. Yang kamu butuhkan untuk menikmati hidup itu bukan harta, tapi cinta. Saat kamu sudah menemukan orang yang kamu cinta, hidup akan indah dengan sendirinya. Aku bangga, akhirnya kamu bisa menyadari itu.” Harno menepuk pundak Supri dan Ningsih, serta menatap mereka dengan penuh rasa bangga.

“Baiklah.. karena kamu juga anakku, aku tak akan membiarkanmu kelaparan lagi, Nak. Meski kamu gagal untuk mendapatkan perusahaanku, aku akan menyerahkan seluruh tabunganku padamu. Maaf jumlahnya tidak seberapa. Cuma sekitar 10 trilyun doang di bank Swiss. Semoga uang itu bisa berguna untukmu dan rumah tanggamu kelak, nak.” Senyum terlukis di bibir Harno. Dia tak pernah sebahagia itu dalam hidupnya. Karena bahagia yang Harno rasakan kali ini bukanlah tentang kesuksesan meraup harta, namun kebanggaan karena sukses mendidik anaknya.

Akhirnya, Supri dan Ningsih menikah serta dengan uang yang diberikan papanya, mereka membuka bisnis delivery pacar di seluruh pelosok negeri. Supri hidup bahagia dengan Ningsih dan anaknya untuk seterusnya, sedangkan Irpus hidup sendiri untuk memenuhi sifat serakahnya. Tidak lama kemudian, Irpus meninggal karena kolesterol tinggi.

TAMAT

Okay.. That was the story. Semoga cerita tadi bisa membuat kalian merasa terhibur dan lupa sama pacar masing-masing. Btw, apa aja yang bisa kalian pelajari dari cerita itu? Share di comment box ya!