Belajar Nulis Di Malam Mistis

Jadi semalem, di malam jumat yang harusnya jadi malam party-nya para setan itu, gue kedatengan teman-teman dari Stand up Kompas TV dan teman-teman yang sering nongkrong bareng gue di depan pasar Cipete, bantuin mobil nyeberang. Ada @Ficocacola @Nuelandreas @Bene_dion @Prstyokh dan @Falenpratama. Awalnya gue iseng aja ngajakin anak-anak main PS di rumah rame-rame. Gue ajakin mereka taruhan, yang kalah kudu bakar ijazah. Nah, pas udah pada ngumpul, tiba-tiba Fico dateng. Buat yang belum tau siapa itu Fico, gue kasih tau ya. Dia itu runner up Stand up Comedy Kompas TV season 3. Dia itu kocak banget karena tiap dia ngomong, random abis. Mulai dari suka ngobrol sama tangan sendiri, sampai suka bercinta dengan botol kecap.
Semalem dia tiba-tiba nanya soal menulis. Dia bilang, “Nulis itu susah.. Nggak ada waktu”. Mungkin sebagian penulis yang baru belajar, juga mengalami masalah yang sama. Tapi buat gue, itu semua cuma self-excuse, karena menulis adalah kegiatan yang membutuhkan kedisiplinan juga. Pas gue jelasin ke Fico, tau-tau si Benedion dan anak-anak lain pada ikut ngedengerin. Nah, di situ akhirnya gue tantangin mereka buat bikin cerpen. Tapi mereka ngeluhin gimana cara nyari ide buat bikin cerpen. Terus gue kasih cara praktis buat bikin cerpen berdasarkan ilmu yang gue dapet dari mas AS Laksana. Gue bikin list kata-kata: Kata kerja, Kata sifat, dan Kata benda.
Belajar Nulis Di Malam Mistis
Gue tulisin semua kata-kata itu di potongan-potongan kertas, terus gue lipat-lipat kayak arisan. Nah, masing-masing dari mereka gue minta ngambil tiga potongan kertas yang berisi kata kerja, kata sifat dan kata benda. Saat mereka membuka potongan-potongan kertas itu, mereka gue minta ngerangkai tiga kata itu menjadi sebuah premis. (Premis: Ide dasar dari sebuah cerita). Misalnya nih, lo dapet tiga kata yang kayak gini: Motor, rindu, kejar. Nah, dari tiga kata itu, kalo disatuin jadi premis bisa jadi banyak banget. Kayak: “Mengejar rindu dengan motor. (rela nyusulin pacar LDR beda provinsi pake motor)”, Atau “Mengejar motor yang dirindukan. (Perjuangan buat bisa beli motornya yang dulu pernah dijual.), dan masih banyak lagi. Tuh, kata siapa susah nyari ide?
Abis anak-anak dapetin premisnya, yang gue minta kepada mereka adalah, pikirin ending. Dengan kita tau endingnya mau kayak apa, setidaknya kita sudah punya tujuan mau dibawa ke mana tulisannya. Tentunya, setelah mereka tau endingnya mau kayak gimana, gue minta mereka buat bikin outline. Outline itu apa? Outline itu adalah semacam kerangka karangan. Catatan-catatan sederhana dari alur cerita dari awal sampai akhir sebelum kontennya ditulis total. Dengan membuat outline lebih dulu, misal kita mau ngubah alur cerita, yang kita ubah cuma poin-poin di outline aja. Jadinya, nggak seribet misal kita mau ngubah cerita di saat seluruh konten udah ditulis. Lebih enak ngehapus poin-poin kan, daripada ngehapus paragraf? 😀
Belajar Nulis Di Malam Mistis
Kurang lebih sejam, anak-anak sangat serius menulis cerita masing-masing. Gue seneng, karena mereka sangat antusias mengikuti kegiatan iseng ini. Dan hasil dari tulisan mereka nggak ada yang mengecewakan. Dan yang paling penting, endingnya mereka sadar bahwa menulis itu bisa di mana aja, kapan aja dan ide itu bukan hal yang langka. Bahkan kita bisa menemukan ide dari cara-cara paling sederhana. Yang jelas, semalem anak-anak jadi nyadar bahwa: Manusia kadang tidak sadar akan potensinya  sebelum mereka mau mencoba. Mungkin ada beberapa kekurangan seperti “ceritanya terlalu terburu-buru”, dan lebih banyak menggunakan cara “telling”, dan jarang atau tidak pernah menggunakan cara “showing”.
Telling itu apa? Showing itu apa?
Telling itu, seperti terjemahannya, berarti “Mengatakan”. Dan Showing itu, seperti terjemahannya, berarti “Menunjukkan”. Ini adalah contoh menceritakan sesuatu dengan cara telling:
“Ayahku galak sekali. Kalau marah, beliau menakutkan sekali.”
Nah, mari kita bandingkan dengan showing:
“Aku tidak pernah berani melawan ayahku. Dia suka berteriak-teriak dan ngemil kaca setiap kali aku berbuat kesalahan. Tidak jarang, bila beliau sedang marah, aku dilempar ke genteng tetangga.”
Menurut kalian, mana yang lebih enak buat dibayangin kejadiannya? Dan menurut kalian, mana yang lebih menyenangkan buat dibaca?
Intinya, telling itu banyak menggunakan kata sifat untuk menjelaskan sesuatu. Sedangkan showing itu tidak menggunakan kata sifat untuk menjelaskan sesuatu. Ya, showing adalah cara paling ampuh untuk menggiring pembaca masuk ke dalam imajinasi penulisnya. Sedangkan telling, akan menciptakan interpretasi yang berbeda-beda dari penulis dan pembaca-pembacanya. Namun tidak semua deskripsi harus menggunakan showing, cukup detail-detail yang dirasa perlu aja. Karena kalo semua dijelasin dengan cara showing, pembaca akan cepat merasa kelelahan. Sedangkan kalo semua dijelasin dengan cara telling, cerita itu akan terasa terburu-buru dan banyak detail yang hilang, padahal mungkin perlu. Kalo banyak detail yang hilang, jadinya ceritanya akan kurang “bernyawa”.
Nah, berikut gue mau ngasih apa yang gue tulis semalem pas ngelakuin tantangan bareng anak-anak.
Agar Cintaku Abadi
“Ningsih.. Ingatkah kamu saat kamu pulang sekolah dan jalan kaki itu? Aku menawarimu untuk nebeng di motor Tossa roda tigaku, tapi kamu nggak mau. Waktu aku paksa kamu untuk menaiki baknya, kamu teriak-teriak dan aku dipukuli massa. Gara-gara kamu, gigiku rontok tiga, tapi hatiku rontok semua.” Ucap Supri kepada wanita berambut panjang setumit kaki yang berbaring bersamanya di kebun penuh ilalang. Angin sore itu berhembus kencang, ilalang bergoyang layaknya penyanyi yang sedang berdendang.
“Aku masih ingat juga, waktu ulang tahunmu, aku bawain kamu kue tart tepat pukul 12 malam. Tapi ayahmu meneriakiku karena dia pikir, aku ini maling. Memang salahku sih, malem itu aku datang sambil menutupi mukaku dengan sarung layaknya ninja. Soalnya aku malu kalo kamu tau aku menyiapkan kejutan semacam itu. Akhirnya, lagi-lagi aku dipukuli massa. Mukaku lebam semua, tapi hatiku remuk redam rasanya.” Supri mengusap-usap rambut Ningsih. Ningsih hanya terdiam mendengarkan kalimat Supri. Tampaknya, Ningsih tidak terkesan dengan cerita Supri.
“Saat aku mengikutimu pulang malam-malam itu, sebenarnya niatku cuma untuk memastikan nggak ada yang ngegangguin kamu. Tapi kamu malah teriak-teriak ketakutan dan berlari bagai rusa. Lagi-lagi aku dianiaya, dan dicemplungin ke kali oleh massa.” Supri mencoba untuk mencubit hidung Ningsih yang hanya terlihat sebagai dua lubang yang rata itu. Cubitannya meleset, karena hidung Ningsih nyaris tak bisa dilihat dengan kasat mata. Tampaknya sejak kecil, hidung Ningsih kekurangan asupan kalsium. Lalu Supri melanjutkan ceritanya, seolah-olah tak peduli Ningsih mau mendengarkannya atau tidak.
“Sejak TK, aku selalu menganggapmu sebagai pusat dunia, tapi sayang kamu nggak pernah tau kalo aku pernah terlahir di dunia. Ini semua salah orang tuaku! Aku pengin masuk di TK kamu, tapi mereka melarangku. Soalnya, mereka sudah dipanggil yang Kuasa, jadinya mereka nggak bisa nyekolahin aku di sana. Jadinya, aku nggak sekolah dari TK.” Supri mencabut satu batang ilalang, dia patahkan dengan perasaan penuh amarah. Tapi dia tidak melihat, di ilalang itu ada ulat bulu. Lima menit kemudian, jempol tangan Supri bengkak sebesar jempol kakinya sendiri.
“Sejak TK, SD, SMP, SMA, sebenarnya kita selalu dekat. Kamu di dalam sekolah, aku di luar pagar sekolah, menunggu pembeli batagorku datang di jam istirahat. Tapi sayang, kamu tak pernah membeli batagorku. Batagor yang selalu aku ciptakan sambil ngebayangin senyum kamu. Batagor yang selalu aku usahakan agar bentuk dan rasanya sempurna, biar kalo kamu merasakannya, kamu tidak akan trauma.” Supri mengusap dedaunan ilalang yang rontok dan menempel di pundak Ningsih. Ningsih tidak mengucapkan terima kasih untuk hal itu, dan tetap bergeming.
“Kamu tau tidak? Setiap hari aku sisakan 10 biji batagorku, karena aku selalu berharap, batagor itu akan berakhir di tanganmu? Tapi sampai sekarang, mungkin ada seratus ribu batagor yang membusuk di rumahku, yang kelelahan menanti sambutan tanganmu. Seperti hatiku, yang mulai ambigu. Tak bisa membedakan ini benar-benar cinta atau cuma ambisiku, karena sudah terlalu lama melawan kecuekanmu.” Supri mengucapkan kalimat itu dengan nada tinggi, dan menatap kesal ke arah Ningsih.
“Aku masih sabar menanti hari di mana kamu akan menganggap aku ada. Sampai akhirnya aku sadar hari itu tidak akan pernah tiba, saat aku mengetahui, kamu berpacaran dengan Harno. Ya, Harno si penjual siomay itu. Aku tau, siomay Harno itu enak, tapi batagorku ini tidak mengandung bahan pengawet. Justru batagorku ini aku ciptakan dengan bumbu cinta dan harapan. Sedangkan siomay si Harno? Dia sengaja memasukkan formalin dan jamu awet muda biar siomaynya selalu terlihat segar meski nggak laku sebulan lamanya. Tapi kenapa kamu malah memilih dia?!” Nada Supri kian meninggi. Supri mendekati Ningsih, dia genggam kerah baju Ningsih, lalu mengguncang-guncangkan tubuh Ningsih. Ningsih pasrah, dan tidak melawan.
“Kian hari, aku lihat kamu dan Harno semakin dekat. Bahkan, kamu mau diboncengin Harno setiap pulang sekolah. Iya, melihat kamu duduk di atas gerobak siomaynya, hatiku serasa dibakar oleh kompor batagorku sendiri. Panas, berapi-api. Aku benci!” Supri menampar pipi Ningsih, darah mengalir keluar dari mulut Ningsih. Namun Ningsih tidak mengeluh kesakitan.
“Tapi sekarang, kamu bukan lagi milik Harno. Kamu cuma milikku! Tidak ada lagi yang bisa, ataupun ingin memilikimu! Hahahahaha! Aku lakukan ini, karena aku mencintaimu, Ningsih.” Supri menarik tubuh Ningsih yang tadinya terbaring. Dia satukan bibirnya dan bibir Ningsih. Lalu, Supri mengambil sebilah parang berlumuran darah yang tergeletak di sampingnya. Dia usap parang itu di depan muka Ningsih dengan dua jarinya.
“Ternyata kesabaran dan cinta bukanlah cara yang tepat untuk membuat matamu terbuka. Ternyata kasih sayang dan harapan, bukanlah hal yang harus kulakukan agar kamu bisa aku dapatkan. Ternyata parang ini lah jalan paling tepat agar kamu bisa aku dapat.” Tubuh Ningsih yang mulai dingin dan kaku, Supri letakkan kembali ke tanah. Supri usap wajah Ningsih untuk membersihkan darah.
“Aku akan menemanimu di sini. Aku akan bertahan bersamamu di sini. Jauh lebih sabar daripada saat aku dulu selalu menanti. Tenang Ningsih, aku ingin memilikimu dengan cara apapun itu, karena aku suka kamu, sejak dulu. Akulah satu-satunya pria yang menemanimu sampai akhir hayatmu. Dan sekarang, aku akan membuktikan sumpahku.” Supri kemudian meletakan parang tadi di atas dada Ningsih yang terbaring. Dia tancapkan ujung parang itu ke dadanya sendiri, lalu dia tekan tubuhnya sendiri ke arah Ningsih.
Sesaat kemudian, terdengar suara rintihan “Aaaahkkk.. Ekkkk..” dan suara “Prett!!”. Parang itu menembus tubuh Supri, dan dia pun tergeletak dengan lemas di atas jasad Ningsih. Supri menutup mata sambil tersenyum penuh makna.
The End.
Gimana menurut kalian? Kebayang nggak itu cerita kondisi settingnya gimana, bentuknya Ningsih kayak apa? Maaf kalo kesannya thriller, soalnya semalem gue dapet tiga kata yang super absurd: “Suka, Kamu, Bunuh”.
Oke, this is the end of the post. Kalo ada pertanyaan soal sharing menulis yang gue bahas hari ini, silakan tulis di comment box ya! Nanti gue bales satu-satu. Terima kasih. 😀